Oleh : Masnaja/Agus Prajitno, S.Si.T., M.Eng.
Pranata Humas Ahli Madya/Plt.Kepala UPT Perpustakaan UINSI Samarinda
Salam Literasi _______________________________________________________________
IQRA: Bacalah dengan menyebut nama Tuhamu, Menuntut Ilmu dan Ngaji Tiada Henti,
Bersama UINSI Wujudkan Generasi Qur’ani Berkarakter Islami.
Hari Kartini bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi momentum untuk menegaskan kembali semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam konteks masa kini. Jika dulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, kini perempuan Indonesia melangkah lebih jauh menjadi pemimpin, inovator, dan penggerak perubahan di berbagai bidang. Di era modern yang serba digital, perempuan berdaya bukan hanya tentang kesempatan, tetapi juga keberanian untuk bersuara, berkarya, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Dari ruang kelas hingga ruang rapat, dari usaha kecil hingga panggung global, perempuan terus membuktikan bahwa mereka mampu berkontribusi secara nyata bagi masyarakat. Semangat Kartini hidup dalam setiap perempuan yang berani bermimpi dan berjuang mewujudkannya. Hari ini, perempuan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pilar penting dalam membangun masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. (Annisa Azizah Akbar, Puteri Muslimah Nusantara Tahun 2024, Mahasiswa UINSI Prodi KPI Semester 6)
Dari semua kesuksesan yang diraih perempuan diberbagai bidang saat ini, kita perlu menengok sejarah perjuangan seorang Kartini dimasa mudanya bersama orang-orang Belanda dan kaum Pribumi yang terdidik karena stratanya waktu itu. Kartini Muda yang selalu gelisah digelayuti akan nasib perempuan pribumi saat itu terus membuat Kartini ingin berjuang dalam kesetaraan melalui pendidikan bagi perempuan pribumi yang berstatus sebagai rakyat biasa yang selalu pasrah dengan keadaan. Kartini muda yang kemudian memasuki usia dewasa mengalami transformasi spiritualitas setelah mengikuti pengajian yang disampaikan oleh K.H. Sholeh Darat dari Semarang di Demak di rumah pamannya, waktu itu K.H. Sholeh Darat mengajarkan Surat Al Fatihah baik bacaannya dan maknanya. Disinilah Kartini tergugah hatinya untuk menemui K.H. Sholeh Darat dan berniat berguru dan mempelajari isi Al Qur’an dengan K.H. Sholeh Darat. Kartini yang kritis, bertanya, berdialogh langsung dengan gurunya, dan setiap pertanyaan, dialogh yang terjadi dicatat dan menjadi bukti sejarah, bahwa kartini adalah seorang santri perempuan cerdas yang menorehkan sejarah dakwah Islam di tanah jawa dengan bukti-bukti tertulis yang dapat kita baca sampai saat ini. Kegelisahan Kartini yang diaktualisasikan dalam pertanyaan dan dialogh dengan Sang Guru telah menggugah K.H. Sholeh Darat untuk menterjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa. Al Qur’an yang berhasil diterjemahkan oleh K.H. Sholeh Darat mulai Surat Al Fatihah sampai dengan Surat Ibrahim terangkum dalam Kitab Faidur Rohman (Kitab Tafsir Al Qur’an dalam Bahasa Jawa pertama kali) menjadi hadiah pernikahan R.A. Kartini dengan R.M.Joyodiningrat Bupati Rembang. Hadiah ini membuat R.A. Kartini sangat bahagia, semangat untuk membaca dan mempelajarinya, dan R.A. Kartini meminta kepada K.H. Sholeh Darat untuk melanjutkannya sampai khatam, namun Allah berkehendak lain, K.H. Sholeh Darat wafat terlebih dahulu.
DIALOGH R.A. KARTINI DENGAN K.H. SHOLEH DARAT
Berikut kisah dan dialogh R.A. Karttini dengan K.H. Sholeh Darat yang dicatat oleh Nyai Fadhilah putri K.H. Sholeh Darat :
R.A.Kartini :
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
K.H. Sholeh Darat :
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
R.A. Kartini :
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
K.H. Sholeh darat :
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis, Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar, menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
TRANSFORMASI SPIRITUAL R.A. KARTINI
Setelah Kitab Faidur Rahman menjadi hadiah pernikahan dan selalu dipelajarinya, R.A. Kartini berubah total yang awalnya cenderung pada ilmu kebarat-baratan karena sejak remaja R.A. Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School), menjadi seorang perempuan yang membela dan memuliakan Agama Islam melalui pemikiran dan tulisan-tulisannya. Berikut catatan sejarah yang menunjukkan, bahwa R.A. Kartini adalah seorang pejuang Islam setelah memahami isi Al Qur’an:
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” {inilah dasar dari buku “Habis gelap terbitlah terang” bukan dari sekumpulan surat menyurat beliau, sejarah telah di simpangkan, (penulis red)}.
Dalam banyak suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh ArmiIn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon: Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan
Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis: Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?
RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon. “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya”.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis: Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis: “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah”.
Melalui Kitab terjemahan Al Qur’an berbahasa Jawa karya K.H. Sholeh Darat itulah R.A. Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu: Orang-orang beriman dibimbing AllAh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257). Kyai Sholeh Darat membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya, R.A. Kartini telah menyumbang pemikiran kritis tentang Al’Qur’an, Aqidah, dan Ilmu Tasawuf di masa itu. Terlepas R.A. Kartini adalah seorang perempuan keturunan bangsawan dan cucu dari seorang Kyai yang mengajarkan Agama Islam di Jepara, Rembang, dan sekitarnya, R.A. Kartini telah menorehkan tinta emas perjalanan sejarah dakwah Islam di tanah jawa melalui pemikiran kritis dan tulisan-tulisannya yang mungkin banyak orang belum ketahui. Semoga cuplikan-cuplikan karya Asmar Salimah yang tersusun dalam artikel ini dapat menggugah kepada kita Umat Islam tentang sejarah R.A. Kartini dari sisi keislamannya, bahwa R.A.Kartini adalah perempuan berdarah Kyai yang turut memperjuangkan kemuliaan Islam di Tanah Jawa yang sedang dalam tekanan dan penindasan oleh penjajah Belanda waktu itu. Masih banyak lagi cerita tentang R.A.Kartini (Pahlawan Kemerdekaan Nasional) yang sangat menginspirasi kita semua dan patut kita teliti dan kita angkat dalam dunia literasi untuk dibaca oleh generasi muda saat ini. Semoga Artikel : “Sejarah Kesantrian R.A.Kartini Yang Terabaikan” ini bermanfaat, dan Allah S.W.T.meridhai.
Dicuplik dari Buku Karya Asmar Salimah dan MusliModerat.Net

Atsar Sahabat :
أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
Artinya:
“Lihatlah apa yang dia katakan, dan
janganlah engkau melihat orang yang mengatakan”
(Ali Bin Abi Thalib R.A.)
Salam Literasi,
Menuntut Ilmu dan Ngaji Tiada Henti
UPT Perpustakaan UINSI Samarinda
@2026